Sejarah Indonesia Merdeka

Jan 23, 2020 |

Kisah sejarah Indonesia yang harus diketahui oleh anak-anak di negara ini, terutama bagi Masami, sekarang menjadi momen menegangkan sebelum deklarasi dan kelicikan Jepang.

Jika Anda serius mengambil pelajaran sejarah di kelas, Anda mungkin tahu tentang Pentya Sambillon, BPUPKI, PPKI dan organisasi lain, kan? Namun, tahukah Anda bahwa banyak dari lembaga ini sebenarnya diciptakan oleh Jepang hanya untuk menjadi boneka bagi pejuang kita?

Mereka membuat “janji-janji palsu” yang terkait dengan kemerdekaan. Akhirnya dia tetap dikelilingi oleh Amerika Serikat dan sekutunya, yang menyebabkan dia menyerah tanpa syarat.

Untungnya, pemuda itu mengetahui dedikasi Jepang dan mencoba membujuk kelompok yang lebih tua, terutama Sukarno dan Hatta, untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan. Akhirnya, pada 17 Agustus, kami secara resmi memperoleh kemerdekaan tanpa intervensi sedikit pun dari Jepang.
Sementara itu, Anda mungkin berpikir bahwa mulai 17 Agustus 1945 kita benar-benar aman dan dapat memulai sejarah Indonesia yang baru. Namun, kenyataannya tidak demikian. Belanda masih tidak ingin melihat kami mendeklarasikan kemerdekaan. Mereka kembali ke Indonesia dan menciptakan keresahan sosial.

Belanda

Belanda hanya istimewa, tetapi mereka benar-benar menyerang negara kita! Acara itu disebut “serangan Aji Belanda”. Pada saat itu, sikap kejam Belanda ini menjadi pusat perhatian dunia ketika mereka menyerang negara berdaulat.

Di sisi lain, mereka bertindak sangat bodoh sehingga pada akhirnya ada banyak pembicaraan, seperti Lingarajjati, Rainville, Rome Raon dan KMB. Pembicaraan terjadi sebagai hasil dari banyak perjanjian antara kedua negara.

Meskipun sebagian besar isi negosiasi itu berbahaya bagi Indonesia, keserakahan Belanda, yang tidak mudah dipenuhi, tidak memungkinkan terjadinya pelanggaran perjanjian.

1. Pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948

Pemberontakan ini juga biasa disebut sebagai pemberontakan PKI Moussa. Musso kembali dari Moskow pada 11 Agustus 1948, dan membawa ajaran Komunis ke Indonesia. Dia mengumumkan pembentukan pemerintah Soviet Indonesia.

Tentu saja, ideologi Panchala adalah untuk mengkonversi ke isme yang kurang. Namun, melihat situasinya, TNI tentu tidak mengatakan apa-apa. Para prajurit Divisi Silvangi dan Jenderal Soderman dikerahkan untuk menghancurkan kelompok itu. Akhirnya, pada 30 September 1948, kota Madoon kembali diduduki oleh tentara.

2. Pemberontakan DI / TII

Gerakan ini dibuat hanya dengan kekecewaan banyak pihak mengenai kebijakan yang dirumuskan oleh Presiden Sukarno. Pemberontakan ini dipimpin oleh Kurtosvirio, yang ingin mendirikan negara Islam Indonesia.

Bantuan datang dari semua lapisan masyarakat, terutama dari Aceh. Seiring waktu, kelompok DI / TII menyebar dan berhati-hati untuk merusak integritas negara. Akhirnya, pemerintah memerintahkan gerakan itu untuk ditekan.
3. Pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)

Kelompok ini muncul karena mereka menyadari bahwa pemerintah pusat melakukan sesuatu yang salah dalam alokasi dana pembangunan. Akibatnya, dewan daerah dibentuk di Sumetra dan Sulawesi.

Seperti namanya, zaman revolusioner ini berusaha menjadi ideologi baru serta menjadi lebih dan lebih mendukung dan mendukung gerakan ini.

Karena itu, pemerintah pusat memandang PRRI sebagai kelompok yang membahayakan kedaulatan negara. PRRI berhasil dikalahkan, dan Republik Indonesia tetap tidak tersentuh.

4. Peminjaman Parmista (Pertarungan Universal)

Parmesta dinyatakan sebagai Pemimpin Sipil dan Militer Indonesia Timur pada 2 Maret 1957. Gelombang ini tidak jauh berbeda dengan PRRI. Perbedaannya adalah bahwa gerakan ini menerima bantuan asing.

Posted in: Berita, Umum | Tags: , , ,

Comments are closed.