Pengertian Rekonsiliasi Fiskal Serta Tujuan

Apr 2, 2019 |

Tujuan Mempelajari Rekonsiliasi Anggaran

  • Ketahui dengan jelas dan sepenuhnya tentang dasar hukum perpajakan dan standar akuntansi keuangan.
  • Mampu menjelaskan konsep rekonsiliasi fiskal.
  • Mampu membedakan perbedaan waktu dan perbedaan tetap.
  • Mampu membedakan antara koreksi positif dan koreksi negatif dan bagaimana melakukan rekonsiliasi.
  • Mampu memahami kasus rekonsiliasi fiskal dan bagaimana menyelesaikan masalah lebih dalam.

A.1 Kerangka hukum

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang pajak penghasilan, sebagaimana telah diubah beberapa kali. Pertama: UU No. 7 untuk 1991, Kedua: UU No. 10 untuk 1994, Ketiga: UU No. 17 untuk 2000 dan dilengkapi dengan UU No. 36 tentang pajak penghasilan 2008.
Laporan Standar Pelaporan Keuangan (PSAK) No. 46 tentang akuntansi pajak tangguhan.

A.2 Definisi rekonsiliasi fiskal

Rekonsiliasi fiskal adalah proses penyesuaian laporan laba rugi berdasarkan undang-undang perpajakan Indonesia untuk menghasilkan laba / rugi sebagai dasar penghitungan pajak penghasilan untuk tahun tertentu.

Pengertian Rekonsiliasi Fiskal Serta Tujuan

Berdasarkan pemahaman di atas, dapat disimpulkan bahwa ada tiga elemen penting dari proses rekonsiliasi kebijakan fiskal, termasuk:

  1. Laporan laba rugi untuk laporan rekonsiliasi keuangan adalah laporan laba rugi. Mengapa Ini disebabkan oleh kenyataan bahwa pajak penghasilan adalah pendapatan, dan pendapatan biasanya tercermin dalam laporan laba rugi. Hasil laporan ini adalah laba / rugi, yang berfungsi sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang harus dibayar oleh perusahaan.
  2. Koreksi / penyesuaian fiskal Penyesuaian / penyesuaian dilakukan jika terjadi kesalahan atau ketidaksesuaian antara aturan / peraturan atau lainnya. Dalam akuntansi, ada beberapa metode atau asumsi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.
  3. Asumsi atau metode ini kemungkinan berbeda dari undang-undang dan peraturan saat ini di Indonesia.
    Perbedaan ini terletak pada kenyataan bahwa ada dua, yaitu perbedaan waktu dan perbedaan tetap. Untuk konsep ini akan dibahas pada subbab berikutnya.

Perbedaan waktu dan tetap

Sebagaimana dijelaskan di atas, perbedaan ini muncul dari perbedaan asumsi / metode yang diadopsi dalam akuntansi komersial sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Secara umum, ada dua perbedaan dalam pengakuan pendapatan dan biaya antara akuntansi komersial dan perpajakan (fiskal), yang menyebabkan koreksi keuangan, yaitu:

  • Perbedaan tetap (beda konstan)
  • Time Miscellaneous (Time Miscellaneous)

Perbedaan tetap (beda konstan)

Perbedaan tetap adalah perbedaan pengakuan pendapatan dan biaya antara akuntansi bisnis dan ketentuan UU PPh yang sifatnya tetap, yang berarti bahwa penyesuaian pajak yang dilakukan tidak akan dihitung dengan penghasilan kena pajak tahun pajak berikutnya. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa perbedaan tetap ini konstan, ketika pada tahun berjalan atau periode pendapatan / pengeluaran tidak dapat diakui sebagai pendapatan / pengeluaran sesuai dengan hukum, maka pada tahun berikutnya atau periode mereka juga tidak dapat diakui dalam sebagai pendapatan / beban dalam laporan laba rugi.

Time Miscellaneous (Time Miscellaneous)

Selain masalah, ada perbedaan lain, yang disebut perbedaan waktu. Perbedaan waktu adalah perbedaan dalam pengakuan pendapatan dan biaya antara akuntansi komersial dan ketentuan UU PPh, yang bersifat sementara, yang berarti bahwa penyesuaian anggaran akan dihitung pada pendapatan kena pajak tahun pajak berikutnya. Oleh karena itu, ketika pendapatan atau pengeluaran pada periode / periode saat ini tidak dapat diakui dalam laporan laba rugi, mereka dapat diakui pada tahun / periode berikutnya.

Ada beberapa alasan atau kondisi ketika waktu yang berbeda terjadi. Perbedaan waktu ini sebagian besar disebabkan oleh asumsi atau metode yang digunakan dalam akuntansi komersial, yang bertentangan dengan akuntansi sesuai dengan hukum Indonesia saat ini. Metode / asumsi ini akan berdampak pada pengukuran akun dalam laporan keuangan. Contoh: persediaan, piutang dagang, aset tetap, investasi, dan lainnya.

Selain itu, dalam akuntansi komersial, pengakuan pendapatan / biaya didasarkan pada basis tunai atau basis akrual selama lebih dari satu tahun. Dalam kasus-kasus di mana pendapatan / pengeluaran tersebut harus didistribusikan sesuai dengan periode akuisisi sesuai dengan prinsip biaya versus pendapatan, tetapi sementara sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan, pendapatan / pengeluaran harus diakui pada saat yang sama dengan saat diterima atau dikeluarkan.

Baca Juga :

Posted in: Umum | Tags: , ,

Comments are closed.